Headlines News :
  • Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

    Guru Matematikaku

    Oleh: Abdul Hamid Muammar

    Diwajahnya ada bintik-bintik hitam(x,y)
    Jerawat memang,
    Tapi bukan buatan
    Alis matanya rapi bukan diarsir
    Bola matanya kongruen dan ekuivalen

    Guru matematikaku
    Tiap hari bermain angka-angka
    Tapi tidak sedang menghitung gaji
    Karena gajinya cukup dieja dengan lima jari
    Dihubungkannya garis,
    Kadang vertikal, sekali waktu horizontal
    Tapi bukan sedang membuat sketsa rumah
    Karena baginya rumah tinggal menempati
    Mau tipe 21, tipe 36, atau yang RSS
    Rumah sangat sempit atau rumah sedikit semen

    Guru matematikaku
    Dahinya terlihat jelas, garis-garis sejajar sumbu x
    Suaranya lantang, lugas, tegas bilangan prima
    Senyumnya lepas bilangan tak terhingga

    Guru matematikaku
    Giginya putih bilangan asli
    Dadanya bidang segitiga sama kaki
    Badannya tegak vertikal

    Guru matematikaku
    Gajinya berbanding terbalik dengan jasanya
    Jasanya berbanding senilai dengan harapan-harapannya
    Ucapan dan pikirannya selalu positif
    Hasilnya selalu berharga mutlak
    Dikuadratkan
    Menteri-menteri
    ABRI-ABRI
    Pegawai negeri-Pegawai negeri
    Kuli-kuli
    Dan masih banyak lagi
    Masih banyak lagi

    Guru matematikaku
    Bila berjalan ditundukkan kepalanya 120 derajat
    Langkahnya sedikit diseret agak loyo
    Maklum terlalu banyak membawa rumus
    Tak senang melihat pengangguran
    Diakhir pertemuan ia selalu berkata PR
    Bila sedang marah ia hanya berkata
    "coba hitung, sejuta pangkat seribu"

    Pelajar Masa Kini

    Oleh: Abdul Hamid Muammar 

    Hari senin adalah hari yang dibenci kebanyakan siswa, karena harus berseragam lengkap, panas-panasan, hormat grak sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya ditengah teriknya matahari. Padahal itu belum seberapa dibanding Pahlawan kita dulu. Kalau terlambat datang ke sekolah untuk mengikuti upacara, biasanya mendapatkan hukuman dua kali lipat lebih ampuh dari hari-hari normal. Bukan hanya menulis skripsi dengan pengulangan kalimat yang sama; “Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya.” tapi juga akan mendapat jatah membersihkan kerak-kerak di setiap sudut toilet siswa dan guru.

    Berat sama dipikul, mudah sama dicontekan. Hal yang sudah lumrah sejak jaman mbaheula. Saling memberikan jawaban satu sama lain. Dengan alasan yang bisa bermacam-macam, maka praktek kolusi-nepotisme seolah menjadi pelajaran pokok di sekolah. Ya, meski secara tidak langsung, tapi percayalah bahwa hal itu akan tertanam kokoh dalam pikiran bawah sadar manusia.

    Saya jadi teringat dengan perkataan Mantan Gubernur DKI Jakarta yang aku liat di televizi kala itu, tepatnya MAN 13 Jakarta (timur), yang sempat dikunjungi Gubernur DKI sebelum menjalani UN 2011. Pak Fauzi Bowo mengatakan, “Jaman sekarang bukan jamannya contek-contekan. Itu adalah jamannya saya dulu.” Pernyataannya memang secara tak langsung mengatakan bahwa contek-mencontek sudah menjadi budaya bangsa yang wajib dipelihara demi keinginan luhur.

    Melihat dari history dan keberlangsungannya sekarang, sepertinya budaya ini akan tetap langgeng diterapkan dalam aktifitas normal di sekolah. Kerap terjadi cinlok atau cinta lokasi di dalam sekolah. Kalau kata orang jawa “Witing tresno jalaran kulino”, Cinta itu tumbuh karena terbiasa (komunikasi & interaksi). Apalagi masa-masa sekolah adalah masa paling bergejolak bukan hanya mentalnya saja, banyak perubahan-erubahan baik fisik maupun psikis.

    Asal orangtua menanamkan benih-benih kebaikan pada anak-anaknya sedari kecil, maka Insya Allah untuk melalui masa peralihan ini pun akan lebih mudah, tidak terombang-ambing, ikut-ikutan, ngekor, jadi bebek. Ikut-kutan tidak masalah, selama yang diikuti itu adalah hal-hal positif yang justru berpotensi untuk mendatangkan lebih banyak kebaikan.

    90% siswa senang jika guru tidak hadir. 98% siswa pernah mengerjakan PR di sekolah. 50% siswa akan bangga jika berhasil melanggar aturan sekolah. Kebanyakan Siswa baru belajar malam jika ada ulangan besok. Ujian Nasional merupakan hal yang menakutkan. Siswa akan lebih dekat dengan Tuhannya jika Ujian Nasional sudah dekat. Dan siswa akan kembali ke wujud semula jika sudah melewati Ujian Nasional.

    Demikian ini sedikit uneg-uneg saya yang sengaja saya tumpahkan dalam bentuk GORESAN TINTA. Sambil minum kopi dan koreksi hasil try out UN yang hasilnya sangat "HOROR SEKALI". Mungkin ada di antara Anda yang mesem ngguyu baca tulisan saya, tapi saya tahu bahwa tidak sedikit juga yang mencak-mencak dibuatnya. Tak mengapa, saya memahami para pembaca seperti halnya para pembaca juga memaklumi saya.

    Semangat Pagi

    Oleh: Fifin Khamidah 

    Garis jingga tergores di sudut timur
    Hangat mentari menawarkan
    Sebongkah hari penuh makna

    Hangat sinar sang mentari
    Seakan mampu memberi semangat jiwa
    Nyanyian burung nan indah
    Seakan mengiringi setiap langkah kakiku

    Pagi ini begitu indah
    Damai......dan tenang
    Terimakasih tuhan
    Telah kau kirimkan pagi
    Pagi yang begitu berarti untukku
    Yang mampu memberikan semangat

    Dan sehingga kumampu menghadapi hari ini...

    *) Siswi kelas XI IPS

    Senyummu

    Oleh: Fifin Khamidah

    Senyum indahmu melekat dalam anganku
    tawa kecilmu seakan tak mau pergi dari fikirku
    canda...tawa...dan bahagia....
    selalu kau hadirkan dalam hidupku
    kau begitu mempesona ....
    kau begitu indah....

    Dan kau begitu berarti....
    Akan ku simpan setiap kenangan...
    Setiap jengkal hari yang kau bagi untukku.......
    Akan ku simpan dalam jiwa......

    Dan ku ingin senyum indah.....
    Yang tergores manis di bibirmu.....

    Takkan pernah hilang.......
    sehingga selalu menemani dalam sepiku....

    *) Siswi kelas XI IPS SMA Walisongo Pecangaan

    Sebuah Cita


    Oleh: Jeannyar Hawa Dacosta 

    gelap  gulita sang awan memayungi tiap langkahku
    tetesan peluh yang bergeming...
    di antara belantara bumi
    letih,lelah takkan jadi arti...
    jikalau kebimbangan kan mengiringi
    tapi...
    adakah rasa dalam karsa?
    adakah cita dalam perjuangan?
    Oh... hanya angan semu dalam labirin hati
    Andai akan menggapai cakrawala
    Pasti... tiada kata tanpa menyerah

    *) Siswi Kelas XI IPS SMA Walisongo Pecangaan

    Hikayat Cinta


    Oleh: Jeannyar Hawa Dacosta 

    Deraian air mata membasahi peluh
    Laksana cahaya sang rembulan meredup lenyap
    Sayup-sayupan angin malam merasuki jiwa
    Batin terguncang tanpa sepatah kata
    Bagai sang pujangga tanpa syair cinta
    Hati riuh berduka cita
    Barangkali mata ini kan kering
    Menanti kesucian cinta...
    Kesenjangan takdir cinta memisahkan kita
    Rindu dendam dalam kebimbangan
    Tak kuasa raga bertatap muka
    Menanti malam ditemani bintang dan rembulan
    Menunggu kedatangan pujaan tiba...

    *) Siswi Kelas XI IPS SMA Walisongo Pecangaan

    Guruku Harapanku


    Oleh: Jeannyar Hawa Dacosta 

    Guruku adalah dewa pembimbingku
    Guruku adalah pelita
    Saat sang surya tak lagi bersinar
    Setiap hembusan nafasnya adalah harapan bagiku
    Setiap kata-katanya adalah ilmu bagiku
    Berbagai petuah t’lah kau beri
    Demi melahirkan generasi berbudi bahasa
    Pekerti yang luhur senantiasa kau ajarkan
    Ajarkanlah kami...
    Bimbinglah kami...
    Tegurlah andai bersalah
    Semangatilah untuk meraih cita

    *) Siswi Kelas XI IPS SMA Walisongo Pecangaan

    Dunia-Mu


    Oleh: Jeannyar Hawa Dacosta 

    Butiran embun turun dari langit
    Jatuh pula tertimpa ranting pohon
    Hawa dingin merasuk raga
    Dari kain katun tak rupawan
    Terdiam sendiri tanpa empunya
    Meratap tembok tinggi menjulang awan
    Dikala sang fajar tiba....
    Memberi kehidupan sang insan
    Tanpa bermuram durja
    Rasa duka menjadi cita
    Cita dalam cinta sang hamba
    Bersujud syukur akan sajadah surga
    Tanpa merenung menangis pilu
    Hanya senyum simpul terselip di dunia fana

    *) Siswi Kelas XI IPS SMA Walisongo Pecangaan

     
    Copyright © 2013. Gema Smawas - All Rights Reserved
    Didukung oleh Blogger