Headlines News :
  • Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

    Keunikan Mempelajari Bahasa Tionghoa (Mandarin)

    Oleh : Lailatul Qodriyah 

    Era globalisasi telah mengubah sikap masyarakat dan pemerintah Indoesia terhadap pendidikan terutama dalam pembelajaran bahasa asing. Bahasa Inggris tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya bahasa asing yang penting untuk dipelajari dan dikuasai. Oleh karena itu, muncul kesadaran dan minat yang tinggi dari masyarakat untuk mempelajari bahasa asing di luar bahasa Inggris. Salah satunya adalah bahasa Tionghoa(??) atau sekarang lebih dikenal dengan bahasa Mandarin.

    Mempelajari bahasa merupakan hal yang penting bagi perkembangan sosial dan kepribadian seorang individu. Sebagai bahasa yang banyak digunakan dibidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, saat ini bahasa Tionghoa mulai berperan sebagai salah satu bahasa internasional. Di samping berperan sebagai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, bahasa Tionghoa dapat juga menjadi alat untuk mencapai  tujuan ekonomi-perdagangan, hubungan antar bangsa, sosial-budaya, serta pengembangan karir.

    Sekarang ini banyak orang yang sukses karena mahir berbahsa mandarin, bukan hanya berprofesi menjadi seorang guru, tapi banyak juga dilain profesi, misalnya saja menjadi seorang translater, presenter tv,dll.

    Belajar Bahasa Mandarin – Bermanfaat Meningkatkan IQ

    Belajar bahasa mandarin, ternyata bermanfaat bagi pengembangan otak besar? Ini bukan hanya kasus unik, banyak anak-anak di seluruh dunia setelah mempelajari bahasa Tionghoa, memiliki hasil yang serupa, mengenai hal ini sudah sejak lama terus menerus dibuktikan oleh sejumlah penelitian ilmiah.

    Bulan Mei 1982, pakar psychology Dr. Cha De Lin (red.: Terjemahan harfiah dari bhs mandarin, tidak akurat) di majalah iptek <NATURE> yang tersohor di seluruh dunia, mempublikasikan sebuah artikel yang menggegerkan dunia. Cha De Lin melakukan penelitian terhadap IQ anak-anak dari lima negara yakni: Inggris, Amerika, Perancis, Jerman-barat dan Jepang, menemukan bahwa IQ keempat negara Amerika dan Eropa nilai rata-ratanya 100, sedangkan IQ rata-rata anak-anak Jepang ialah 111, sebabnya ialah anak-anak Jepang telah mempelajari huruf Kanji (aksara mandarin)

    Hasil resmi penelitian di Singapore pada bulan Januari tahun ini juga membuktikan, anak-anak belajar bahasa mandarin bisa meningkatkan IQ dan kemampuan. IQ anak Singapore berusia antara 6 hingga 12 tahun yang belajar bahasa mandarin lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak Inggris, Jerman dan Australia, kemungkinan hal itu berkaitan dengan pembelajaran mereka akan aksara mandarin yang berkarakter pictogram.

    Sesuai berita <healthy net>, penelitian ini telah meneliti 7.000 lebih anak-anak berusia antara 6 hingga 12 tahun, dengan menggunakan metode pengangkaan IQ yang diakui internasional untuk menimbang level IQ anak, akhirnya disimpulkan, anak Singapore di dalam hal penampilan, lebih unggul dibandingkan dengan anak-anak Inggris, Jerman, Australia dan negara barat lainnya.

    Dr. Zeng yang mengadakan penelitian ini berpendapat, situasi ini, kemungkinan telah menunjukkan bahwa belajar bahasa mandarin, di dalam peningkatan bidang IQ memerankan bobot yang cukup penting. Hasil penelitian bersamaan itu juga menunjukkan, anak-anak yang dengan aktif mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, IQ mereka juga lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lain.

    Demi membuktikan keterkaitan belajar bahasa mandarin dengan peningkatan IQ, Dr. Zeng memperbandingkan anak-anak Singapore itu dengan anak-anak dari Hong Kong dan Korea yang sama-sama juga harus belajar bahasa mandarin, akhirnya disimpulkan IQ anak-anak dari ketiga tempat tersebut seimbang.    Dr. Zeng menyatakan, ini juga telah membuktikan keunikan pictogram bahasa mandarin, dapat membantu meningkatkan IQ anak kecil dan memperkuat kemampuan belajar.

    Tidak ada hal yang berjalan sendirian, <harian Figaro> Perancis pada pernah mempublikasikan sebuah artikel tentang “10 ALASAN UTAMA BELAJAR BAHASA MANDARIN“, menandakan kelebihan belajar bahasa mandarin, melalui peluang artikel ini menganjurkan kepada orang Perancis untuk belajar berbicara bahasa mandarin.

    Sering kali orang menganggap remeh mempelajari bahsa asing apalagi bahasa Tionghoa, yang sekarang ini dipedesaan dianggap tidak ada manfaatnya atau tidak ada gunanya. Tapi sebenarnya kalau kita mau mengasah kemampuan berbahasa asing kita bisa mendapatkan keuntungan dan manfaatnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa mempelajari bahsa Tionghoa bisa bermanfaat bagi bisnis, menambah sebuah ketrampilan bekerja, belajar bahasa mandarin dengan diutamakan bahasa lisan, lancar berbisnis atau melancong di Tiongkok, belajar bahasa mandarin tidaklah sukar, memudahkan dalam memahami kebudayaaan Tionghoa dll.

    *) Alumnus SMA Walisongo Pecangaan Angkatan 2012

    NKRI : Negara Konspirasi Republik Ironi

    “Dunia ini  panggung sandiwara... ceritanya mudah berubah....Ada peran wajar, dan ada peran yang berpura-pura....Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan.....Mengapa kita  bersandiwara....”

    Lantunan suara emas Nike Ardila itu kadang masih terngiang di telinga kita, meski pelantunnya sendiri telah menikmati kesunyian di alam peristirahatan.

    Tetapi saya tidak sedang ingin bercerita tentang salah satu penyanyi idola saya itu melainkan mencoba meng-hayati makna yang dalam dari tembang tersebut. Sepertinya Dedy Dores, sang pencipta lagu itu tidak sekedar ingin menyuguhkan nyanyian tetapi seakan ingin berujar ‘Beginilah kondisi dunia dimana kita hidup’.

    Kehidupan ini memang layaknya drama ; penuh intrik, sensasi dan sandiwara. Tontonlah panggung di depan mata kita. Pementasan drama negeri ini. Panggung politik, hukum, sosial dan ekonomi penuh dengan muatan konspirasi. Bahkan panggung pendidikan dan olahraga yang sarat akan muatan nilai-nilai luhur edukasi dan sportifitas tidak mau ketinggalan untuk mementaskan kisah-kisah rekayasa.

    Benarkah kita ini adalah rakyat dari negara konspirasi ? mari kita merenung sejenak. Berbagai pemberitaan yang deras muncul di layar kaca, yang kita saksikan setiap saat, bisakah kita bedakan mana yang benar dan mana yang keliru? Bisa jadi hari ini kita yakin bahwa ‘dia inilah yang salah’ tetapi besoknya televisi mampu merubah keyakinan kita ‘oh, bukan ternyata yang salah bukan dia tapi mereka’.

    Begitulah, televisi memang bisa menghibur, menjadikan kita lebih pintar dan tidak jarang membuat kita bingung.   Semakin kontroversi yang diberitakan semakin laris pula siaran yang mereka jual. Bahkan kalau perlu hal yang biasa sengaja di’kontroversi’kan agar lebih menarik. Tetapi kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan televisi. Bagaimanapun itulah pekerjaan mereka. Berusaha sebanyak mungkin menyita perhatian  mata  pemirsa.

    Terlepas dari semua itu, sepertinya selalu ada sosok sutradara yang mengatur skenario kasus demi kasus yang terjadi di negeri ini. Publik seakan dengan mudah mengendus adanya peran sang sutradara ketika menyaksikan proses dan penyelesaian kasus yang di luar nalar dan penuh keganjilan.

    Yang paling hangat tentu prahara di tubuh partai politik Indonesia, dimana penyelesaian hukum para kadernya masih terjadi tarik ulur dan berputar-putar. Skandal ‘daging sapi’ beberapa petinggi Partai Keadilan Sejahtera yang ‘berhasil’ mempopulerkan istilah “gratifikasi seks” selain mencengangkan juga disebut ada konspirasi besar dibalik pembongkaran kasus tersebut. Catat juga deretan kejanggalan proses penangkapan Raffi Ahmad dan ‘perlakuan berlebihan’ dari BNN untuk sebuah tuduhan yang bahkan belum diatur di undang-undang juga menimbulkan pertanyaan ; ada apa ini ?.

    Sekarang mari kita flashback sebentar. Putar kembali memori ingatan anda akan kasus ‘heboh’ berikut.

    Gayus Tambunan

    Munculnya lakon antagonis pendatang baru, Gayus Halomoan Tambunan. Sepak terjang dan akal bulusnya di Dirjen Pajak, rasanya sulit merangkumnya hanya dalam 2-3 halaman kisah konspiratif. Sebab, jalinannya begitu rumit dan berbelit-belit. Bagaimana mungkin, pejabat rendahan sekelas Gayus mampu memainkan peran hebat yang menghasilkan triliunan rupiah hanya seorang diri ? sangat mustahil. Kalau kemudian keterlibatan petinggi Dirjen Pajak, Kepolisian, Kejaksaan dan bahkan politisi muncul ke permukaan, lalu kenapa hanya Gayus yang jadi pesakitan di dalam tahanan ?.

    Antasari Azhar

    Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu dituduh mendalangi pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran pada 14 Maret 2009 akibat motif perselingkuhannya dengan istri siri Nasrudin, Rani Juliani, mantan caddy Moderland Golf. Benarkah demikian ? ataukah memang  sengaja disingkirkan, mengingat keberaniannya menebas satu persatu koruptor kelas kakap ?.

    Faktanya, banyak kejanggalan-kejanggalan yang tercecer. Diantaranya, pakar telematika Dr. Ir. Agung, M.Sc. M.Eng., dosen ITB yang ditugaskan meneliti CDR (call data record) pada 6 nomor ponsel Antasari dan Nasrudin menegaskan tidak ada jejak dan bukti bahwa Antasari pernah meneror Nasrudin melalui pesan singkat. Pakar forensik RSCM, dr. Mun’im mengatakan menerima jasad Nasrudin dalam keadaan tidak asli alias sudah dimodifikasi. Bukti peluru yang bersarang di kepala Nasrudin ternyata tidak cocok dengan pistol yang menjadi alat bukti di pengadilan. Jenis pistol SW Special kaliber 38 tidak mungkin bisa dipakai untuk menembakkan peluru 9 mm. Dan satu lagi, Kombes Wiliardi, salah seorang yang dituduh sebagai perwira yang mencarikan eksekutor, justru mengakui bahwa memang benar ada rekayasa untuk menjadikan Antasari sebagai korban !.

    Pada 2004, seorang aktivis HAM Indonesia menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pesawat dalam perjalanan dari Indoensia menuju Belanda, tepatnya di langit Rumania. Tim ahli pathologi dari Netherland Forensic Institute melaporkan Munir meninggal karena diracun zat-zat arsenik. Kasus itu hanya mampu menyeret seorang ‘kambing hitam’ bernama Polycarpus, pilot Garuda Indonesia. Dia menjadi satu-satunya pihak yang dipersalahkan. Sangat tidak masuk akal seorang pilot memiliki motif untuk membunuh aktivis internasional ?.

    Mungkin kita tidak perlu heran, bukankah negara ini dibangun dari sejarah yang (katanya) banyak direkayasa ?. Tragedi G30S PKI,  Serangan Umum 1 Maret 1949, Supersemar, akhir hayat sang proklamator Ir. Soekarno yang mengenaskan, bahkan tentang Kerajaan Majapahit juga disebutkan para ahli teori konspirasi sebagai sejarah yang penuh tanda tanya.

    Buku-buku sejarah yang kita pelajari di bangku sekolah menuliskan Majapahit sebagai kerajaan Hindu terbesar di Asia Tenggara. Tetapi temuan-temuan Tim Kajian Kesultanan Majapahit cukup mengagetkan.

    Pada koin emas, alat pembayaran resmi pada masa itu terdapat tulisan kalimat syahadat. Lambang Majapahit (bisa dilihat pada logo Universitas Gajah Mada) yang berbentuk sinar matahari bersudut 8 tertulis kata-kata ; ma’rifat, shifat, asma’, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Para peneliti juga meyakini nama Patih Majapahit yang sangat masyhur, Gajah Mada aslinya adalah Gaj Ahmada. Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan merupakan cucu Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang merupakan ulama dari Pasundan. Pada makam Syekh Maulana Malik Ibrahim,  wali  pertama dalam  hierarki Walisongo, terdapat testimoni bahwa ia merupakan qhadi (hakim) Kerajaan Majapahit.

    Dari rentetan fakta tersebut dapat kita pahami bahwa Kerajaan Majapahit sebenarnya adalah kerajaan Islam. Benarkah demikian? Wallauhua’alam... Lantas, siapa yang dengan sengaja membelokkan sejarah besar itu? Lalu untuk apa?. Belum ada jawaban pasti hingga saat ini.

    REPUBLIK IRONI

    Indonesia tidak hanya menjadi negara dengan balutan konspirasi, korupsi dan kolusi. Republik Indonesia seperti menjelma menjadi Republik Ironi.

    Indonesia (dulunya) berpredikat sebagai negara agraris. Budayawan Emha Ainun Najib bahkan pernah menyebut negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan pernah bocor dan menyipratkan kekayaannya. Dan cipratan kekayaan itu bernama : Indonesia Raya. Tidak akan mungkin engkau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di atas hijaunya bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Tetapi nyatanya tidak demikian. Potret kemiskinan dan kelaparan masih terus menghiasi wajah bangsa ini. Negara agraris ini malah harus impor beberapa komoditi pertanian dari negara tetangga. Sungguh ironis.

    Fakta ironis memang terus mengemuka. Penjara harusnya menjadi media pertaubatan dan memberi efek jera bagi para pelaku kejahatan, termasuk penjahat narkoba. Tapi kini, penjara justru menjadi markas yang sangat nyaman untuk menggerakkan jaringan bisnis haram ini.

    Korupsi tidak hanya jadi ‘pekerjaan’ eksekutif dan legislatif saja, sekarang para penegak hukum dan keadilan telah bergabung dalam lingkaran setan korupsi yang sistematis. Kalau polisi, jaksa, dan hakim juga berperilaku kriminal, kemana lagi kita akan mengadukan tindak kejahatan dan mencari keadilan ?.

    Masih belum cukup. Kementerian Agama dan Kepolisian Republik Indonesia, dua lembaga yang selayaknya berisi insan-insan beriman, bermoral dan taat hukum justru menjadi salah satu lembaga terkorup di Indonesia. Benar-benar ironis.

    Ah, entahlah. bagaimanapun negeri ini tetaplah Republik Indonesia. Tanah air yang harus selalu kita junjung dan kita cintai. Bangsa yang harus tetap kita banggakan dan selamatkan. Kita ?? Ya ! kalau tidak kita siapa lagi ?.

    Yang saya tulis hanyalah sedikit catatan. Pelajaran yang mengajarkan kepada kita untuk tidak serta merta percaya dengan apa yang kita lihat, melainkan harus bisa menyikapinya dengan arif dan bijak. Saya tidak sedang ingin menyebarkan virus kebencian pada negeri ini,bukan pula hendak menanamkan benih ketidak-percayaan pada pemimpin-pemimpin bangsa ini. Sekali lagi, hanya sebuah catatan ringan yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi di kampus-kampus, perbincangan di warung-warung kopi atau obrolan di pinggir-pinggir jalan.

    Saya tidak sedang menyebarkan virus kebencian pada negeri ini,bukan pula hendak  menanamkan benih ketidakpercayaan pada pemimpin-pemimpin bangsa ini. Ini hanya sedikit catatan. Pelajaran yang mengajarkan kepada kita untuk tidak serta merta percaya dengan apa yang kita lihat, melainkan harus bisa menyikapinya dengan arif dan bijak.

    Afred Suci, 151 Konspirasi Dunia
    Jamie King, 111 Konspirasi yang Menghebohkan Dunia
    dan media-media lain.



    Memilih Sekolah yang Ideal

    Oleh : Saifurrohman, S.Ag. M.Pd.* 

    Sesuatu hal wajar jika sebelum menentukan pilihan, ada baiknya harus menentukan apa dan bagaimana sebaiknya kreteria yang dapat dijadikan sebuah pilihan; untuk memilih sekolah tentunya juga sangat penting mengetahui hal apa saja yang patut dijadikan pertimbangan dalam menentukan pilihan; para pakar pendidikan memberikan 8 (delapan) kreteria yang harus dipahami sebagai referensi awal dalam sebuah pilihan.

    Inilah ke-8 kreteria tersebut:

    1. Ketahuilah visi dan misinya. 
    Banyak ahli yang mengingatkan tentang pentingnya aspek visi dan misi pendidikan yang disandang suatu sekolah. Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur dan realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi sekolah yang diinginkan

    SMA Walisongo mempunyai Visi dan Misi yang sudah memasyarakat di lingkungan Yayasan Walisongo Pecangaan yakni:

    Visi : “Berilmu Amaliyah, Beramal Ilmiyah dan Berakhlaqul Karimah”

    Misi :
    a. Melaksanakan proses pembelajaran dan pengajaran secara tepat guna dan berhasil guna
    b. Menumbuhkembangkan sikap aktif, kreatif dan inovatif pada diri siswa
    c. Menerapkan dan mengimplementasikan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah dalam kehidupan sehari-hari
    d. Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah (stage holder)

    Dan SMA Walisongo Pecangaan telah terakreditsai dengan nilai maksimal A

    2. Porsi Pendidikan Agama
    Di era sekarang ini, dimana banyak kasus yang menimpa generasi penerus kita termasuk dalam hal ini para pelajar, mulai dari kasus tawuran, narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan menuyimpang lainnya, maka peran pendidikan agama menjadi sangat signifikan terutama dalam membentuk kharakter dan perilaku siswa

    Oleh karena itu, porsi pendidikan agama yang diterapkan oleh suatu sekolah hendaknya menjadi bahan pertimbangan penting orang tua dan anak dalam memilih sekolah. Barangkali, jika kita ingin mendapatkan pendidikan agama yang lebih di sekolah negeri, nampaknya sulit diwujudkan

    SMA Walisongo Pecangaan memandang penting bahwa porsi pendidikan agama  disamping mengikuti kebijakan pemerintah terkait dengan ketentuan kurikulum, SMA Walisongo Pecangaan memberi tambahan pendidikan agama yang mengarah kepada kebutuhan keagamaan sehari-hari, dan bersifat praktik, antara lain; Ketrampilan Agama; Baca Tulis Alqur’an (BTA); Fiqh/Aqidah masing-masing 1 (satu) jam pelajaran dan tak kalah pentingnya mata pelajaran Ke-NU-an dan Pendidikan Agama Islam (PAI) masing-masing 2 (dua) jam pelajaran

    3. Profil Pendidik
    Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan tidak dapat dilepaskan dari andil guru. Boleh dikatakan guru sebagai ujung tombak pendidikan untuk mencetak dan mengkader generasi penerus yang didambakan. Apalah artinya kurikulum yang ideal jika tidak didukung oleh pelaksananya, yaitu sumber daya manusia yang cakap. Maka tidak heran, jika pemerintah terus-menerus berusaha meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai program, mulai dari penataran-penataran, beasiswa pendidikan dan sertifikasi guru

    Tenaga pendidik SMA Walisongo Pecangaan; seluruhnya (100%) sesuai dengan kompetensi dan berpengalaman di bidang mata pelajaran yang diampu masing-masing, dan 35% diantaranya telah mendapatkan sertifikasi guru, hal itu sebagai bukti bahwa pendidik(guru) di lingkungan SMA Walisongo Pecangaan telah memenuhi standar kompetensi seorang guru diantaranya  Kompetensi Peadagogik; personal atau pribadi; professional; dan kemasyarakatan(social)

    4. Gedung dan fasilitas
    Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan prasarana yang mendukung. Mulai dari bangunan fisik, ruang kelas, taman, perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan kesenian, arena bermain, kantin, perlengkapan kelas, sampai dengan alat peraga edukasi yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah sekolah memiliki fasilitas akses jaringan internet dan website sendiri, dimana setiap stake holders dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya.

    Hal ini, akan sangat membantu bagi orang tua untuk memantau perkembangan putra-putrinya secara cepat tanpa harus secara fisik datang kesekolah. Dengan didukung sarana dan prasarana yang baik, diharapkan semua peserta didik dapat belajar secara enjoy, nyaman, dan betah. Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak, sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan siswa. Hal yang perlu diperhatikan juga mengenai rasio jumlah siswa dengan luas ruangan kelas serta fasilitas pembelajaran yang lain

    SMA Walisongo Pecangaan dengan fasilitas yang telah dimiliki, sudah mencukupi dari lengkap, bahkan komplit; Ruang Multimedia; Ruang Praktikum Biologi, Kimia, Fisika, Bahasa (yang berstandar Internasional); Desain Grafis dan Laboratorium TIK sebagai penunjang sarana pembelajaran dengan dilengkapi Media terkini (LCD Proyektor) dan juga dilengkapi dengan fasilitas AC di ruang belajar; Perpustakaan dilengkapi E-library; juga fasilitas koneksi internet unlimited (hotspot area) akan menambah suasana pembelajaran semakin interaktif, demikian juga sarana olah raga juga tercukupi memadai sebagai peningkatan olah kebugaran para peserta didik

    5. Lokasi sekolah dan lingkungan
    Faktor lokasi dan lingkungan ini hendaknya diperhatikan oleh orang tua dan anak itu sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya. Perlu dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di pusat perkotaan atau keramaian dan yang berada di pinggiran atau lebih dekat dengan suasana alam, semua memiliki plus-minus-nya

    Lokasi SMA Walisongo Pecangaan cukup strategis letaknya ; yang dapat diakses dari arah manapun dengan mudah; lokasi masuk ke dalam 100 m dari jalan raya menambah nyaman karena suasana lingkungan yang jauh dari kebisingan hiruk pikuk kota, dan asri yang dikelilingi tumbuhan yang rindang nan hijau yang jauh dari polusi

    6. Biaya pendidikan
    Barangkali bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini menjadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan sekolah yang dipilih, terutama bagi masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah ke bawah. Biaya pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum terdiri iuran SPP, bantuan pembangunan/gedung, seragam, buku, praktikum dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah yang dianggap favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan memasang biaya pendidikan yang tidak murah.

    Hal ini berkaitan dengan fasilitas pembelajaran dan program-program unggulan yang ditawarkan. Namun yang perlu diingat bahwa, tingginya biaya pendidikan yang diterapkan pihak sekolah hendaknya diikuti juga dengan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, sebelum menentukan pilihan sekolah, orang tua diharapkan sudah mampu mengukur kemampuan secara ekonomi tentang biaya pendidikan yang harus dikeluarkan termasuk anggaran lain di luar program sekolah, seperti uang saku, transportasi, perlengkapan sekolah dan lain-lain

    SMA Walisongo Pecangaan dalam hal pembiayaan sangat terjangkau sekali; meskipun begitu fasilitas yang ada jauh lebih baik dari sebuah harga yang harus dibayarkan oleh peserta didik; falsafah yang dibangun adalah melayani semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan amanat undang-undang dan semangat perjuangan menegakkan agama Islam

    7. Ketertiban dan kebersihan sekolah
    Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib dan lingkungan yang bersih tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran.Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh, penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu dan kurang optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah harus merasa senang dan betah seperti ketika berada di rumahnya sendiri (feels like second home).

    SMA Walisongo Pecangan telah mencanangkan program Cleen and Green di semua sektor; tentunya kebersihan menjadi program yang serius dilaksanakan oleh semua masyarakat di SMA Walisongo Pecangaan; juga suasana dan lingkungan yang indah bernuasa alami dengan pepohonan yang rindah dan teduh adalah bagian untuk menciptakan suasan belajar yang nyaman. Rasa aman juga dimiliki oleh SMA Walisongo Pecangaan hal ini dapat diliat, bahwa lingkungan sekolah ini telah diberi pagar rapat berkeliling, dengan 1(satu) pintu keluar masuk, hal ini untuk meminimalisir para pelaku kejahatan dari luar sekolah, dan menutup peluang untuk tidak terjadi para peserta didik “mbolos” tanpa sepengetahuan pihak sekolah

    8. Lihat prestasi dan keberhasilan alumninya
    Kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih sekolah yang ideal adalah prestasi dan profil output-nya. Sekolah yang baik, selain unggul di dalam proses, juga unggul pada hasilnya. Seperti telah diurakaikan di muka, yang disebut prestasi tidak hanya secara akademik, tetapi juga non akademik baik siswa, guru maupun institusinya. Bagaimana perkembangan bakat dan potensinya, sikap, perilaku, kemandirian, keterampilan dan keahlian lain yang mendukung. SedangkanKeberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah dapat diterima di sekolah lanjutan yang kualitasnya baik serta memiliki life skill yang cukup untuk mampu eksis di tengah masyarakat.

    SMA Walisongo Pecangaan  tahun lalu mendapatkan prestasi akademik yang fantastis, dari 9 (Sembilan)  Mata pelajaran Ujian Nasional, 7 (tujuh) mata pelajaran diantara mendapat peringkat terbaik nomor 1 (satu) se-SMA sekabupaten Jepara, yaitu Kimia, Matematika, Bahasa Inggris, Geografi, Bahasa dan Sastra Indonesia, Fisika dan Ekonomi;

    Prestasi yang diraih oleh SMA Walisongo Pecangan, memberikan andil besar terhadap peserta didik yang akhirnya menjadi Alumni  dan sudah bertebaran di Perguruan Tinggi ( PT) ternama baik swasta maupun negeri.

    Para Alumnus telah banyak mengabdi diberbagi sektor dan lini baik pemerintahan maupun swasta; sebagian contoh kecil Zaenal Arifin, Gatot  mengabdi di Kopassus; Didik Darmaji ada di skuad PASPAMPRES; Wani Rahayu mengadikan di Dirjen Pajak; dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

    Demikian ke -8 ( depalapan) kreteria pokok yang harus diketahui untuk menentukan pilihan, sekolah mana yang harus dipilih oleh calon peserta didik dan atau orang tua yang akan menitipkan anaknya untuk meraih kesuksesan. Semoga bermanfaat.

    *Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMA Walisongo Pecangaan

    Potret Sekolah Unggulan

    Oleh: Budi Ismai, S.E. 

    Sekolah unggulan adalah program bersama seluruh masyarakat, yang tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, sekolah dan orang tua secara perorangan. Namun menjadi tanggung jawab bersama dalam peningkatan Sumber Daya Manusia  Indonesia.

    Sebuah anekdot yang menggelikan sekaligus menyakitkan pernah diutarakan oleh almarhum Gus Dur. Suatu hari pernah diadakan pameran berskala internasional. Dalam acara tersebut dipamerkan sekaligus ditawarkan ‘perwakilan’ berbagai jenis otak manusia dari seluruh negara, termasuk Indonesia.

    Dari sekian banyak stan pameran, ternyata otak orang Indonesia yang paling diminati para pengunjung. Bahkan harganya paling mahal di-banding dengan ‘kontestan’ lain termasuk Cina, Jepang, Jerman dan negara-negara maju lainnya. Usut punya usut ternyata alasan para pengunjung lebih memilih otak orang Indonesia adalah karena ‘jarang dipakai’ sehingga relatif masih baru. Beda dengan otak orang Jepang yang sudah sering dipakai, sehingga barangkali sudah aus.

    Indonesia nampaknya masih harus berlari kencang mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain dalam hal kualitas  sumber daya manusia (SDM). Tidak terbantahkan lagi, ujung tombak dalam mengatrol kualitas  SDM adalah pendidikan yang bermutu. Dan, sekolah  sebagai salah satu lembaga pendidikan punya peran penting dalam mencetak generasi bangsa yang bernilai jual tinggi.

    Sadar akan peran penting tersebut, sekolah kemudian saling berlomba untuk menjadi tempat belajar yang unggul. Maka sekarang di banyak tempat bermunculan sekolah unggulan -baik yang memang unggul secara kualitas maupun sekedar mengklaim dirinya unggul. Sehingga beberapa pakar pendidikan mempertanyakan definisi dari sekolah unggulan yang kemudian memunculkan konsep pengertian sekolah unggulan.

    Tipe 1
    Sekolah menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi. Meskipun proses belajar-mengajar sekolah tersebut tidak luar biasa bahkan cenderung ortodok, namun dipastikan karena memilih input yang unggul, output yang dihasilkan juga unggul.

    Tipe 2
    Sekolah dengan tawaran fasilitas yang serba mewah, yang ditebus dengan SPP yang sangat tinggi. Konon, untuk sekolah dasar unggulan di Parung, Bogor uang pangkalnya saja bisa sekitar lebih dari 7 juta. Mahal? Tidak juga. Buktinya banyak yang sekolah di sana. Tidak mahal menurut mereka dibandingkan biaya sekolah di luar negeri, dan memang sekolah ini dibangun untuk membendung arus warga negara Indonesia yang ‘eksodus’ sekolah ke luar negeri.

    Otomatis prestasi akademik yang tinggi bukan menjadi acuan input untuk diterima di sekolah ini, namun sekolah ini biasanya mengandalkan beberapa “jurus” pola belajar dengan membawa pendekatan teori tertentu sebagai daya tariknya. Sehingga output yang dihasilkan dapat sesuai dengan apa yang dijanjikannya.

    Tipe 3
    Sekolah ini menekankan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Menerima dan mampu memproses siswa yang masuk sekolah tersebut. Input siswa dengan prestasi rendah mampu menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi.
    Dari ketiga tipe sekolah unggulan di atas, manakah yang benar-benar merupakan sekolah unggul ?

    “Effective School”
    Sekolah unggul adalah terjemahan  bebas  dari  “Effective School”.  An  Effective  School  is  a school that can, in measured student achievement terms, demonstrate the joint presence of quality and equity. Said another way, an Effective School is a school that can,  in measured student achievement terms and reflective of its “learning for all” mission, demonstrate high overall levels of achievement and no gaps in the distribution of that achievement across major subsets of the student population.(effective schools research and the role of professional learning communities)

    Ada beberapa faktor yang harus dicapai bila sekolah tersebut bisa dikategorikan sekolah unggul :

    1.  Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Profesional
    Kepala Sekolah seharusnya memiliki kemampuan pemahaman yang menonjol. Dari beberapa penelitian, tidak didapati sekolah yang maju namun dengan kepala sekolah yang bermutu rendah. Penelitian Standfield, dkk (1987) selama 20 bulan di Sekolah Dasar Garvin Missouri dan Gibbon (1986) di sekolah-sekolah negeri di Ohio selama tahun ajaran 1982/1983, keduanya menemukan bahwa  peran  kepala  sekolah  yang efektif dan profesional mampu mengangkat nama sekolah mereka sehingga mampu memperbaiki prestasi akademik mereka.

    2. Guru-guru yang tangguh dan profesional
    Guru merupakan ujung tombak kegiatan sekolah karena berhadapan langsung dengan siswa. Guru yang profesional mampu mewujudkan harapan-harapan orang tua dan kepala sekolah dalam kegiatan sehari-hari di dalam kelas.

    3. Memiliki tujuan pencapaian filosofis yang jelas
    Tujuan filosofis diwujudkan dalam bentuk Visi dan Misi seluruh kegiatan sekolah. Tidak hanya itu, visi dan misi dapat dicerna dan di-laksanakan secara bersama oleh setiap elemen sekolah.

    4. Lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran
    Lingkungan yang kondusif  bukan  berarti ruang kelas dengan berbagai fasilitas mewah. Melainkan lingkungan yang dapat memberikan dimensi pemahaman secara menyeluruh bagi siswa

    5. Jaringan organisasi yang baik
    Jelas, organisasi yang baik dan solid akan menambah wawasan dan kemampuan tiap anggotanya untuk belajar dan terus berkembang.

     6. Kurikulum yang jelas
    Memang sebaiknya kemampuan membuat dan mengembangkan kurikulum disesuaikan di tiap daerah bahkan sekolah. Pusat hanya membuat kisi-kisi materi yang akan diujikan secara nasional. Sedang pada pelaksanaan pembelajaran diserahkan kepada daerah dan tiap sekolah menyusun kurikulum dan target pencapaian pembelajaran sendiri. Diharapkan akan muncul sekolah unggulan dari tiap daerah karena memiliki corak dan pencapaian sesuai dengan potensinya. Seperti sekolah di Kalimantan memiliki corak dan target pencapaian mampu mengolah hasil hutan dan tambang serta potensi seni dan budaya mampu dihasilkan sekolah-sekolah di Bali.

    7. Evaluasi belajar yang baik berdasarkan ketentuan untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran.
    Bila kurikulum sudah tertata rapi dan jelas, akan dapat teridentifikasi dan terukur target pencapaian pembelajaran sehingga evaluasi belajar yang diadakan mampu mempetakan kemampuan siswa.

    8. Partisipasi orang tua murid yang aktif dalam kegiatan sekolah.
    Di sekolah unggulan di-manapun, selalu melibatkan orang tua dalam kegiatannya. Kontribusi yang paling minimal adalah me-mberikan pengawasan secara sukarela  kepada  siswa  pada  saat
    istirahat. Pada proses yang intensif, orang tua dilibatkan dalam proses penyusunan kurikulum sekolah sehingga orang tua memiliki tanggung jawab yang sama di rumah dalam mendidik anak sesuai tujuan yang telah dirumuskan. Sehingga terjalin sinkronisasi antara pola pendidikan di sekolah dengan pola pendidikan di rumah.

    Tom J Porkins, mahasiswa program doktoral di Harvard University meminta bantuan temannya, seorang konsultan manajemen dan pendidikan di Indonesia (Radar, 28 Juni 2010), untuk meneliti indikator-indikator sekolah unggul di Indonesia. Menurutnya, ciri-ciri sekolah unggul adalah sebagai berikut :

    1. Sekolah tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya
    2. Kemampuan akademik dan moral siswa barunya sangat beragam
    3. Guru lebih banyak dituntut menjadi “agen perubah”, yaitu mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
    4. Guru mengembangkan ke-mampuan para siswanya dengan cara yang berbeda-beda.
    5. Gaya mengajar guru harus menyesuaikan dengan gaya belajar siswanya
    6. Mengutamakan proses pembelajaran dibandingkan  input siswa.

    Sudah adakah di daerah kita yang memiliki sekolah dengan ciri-ciri yang diutarakan oleh Tom J Parkins di atas?

    Dirangkum dari berbagai sumber

    *) staf pengajar di SMA Walisongo Pecangaan

    Bahasa Mandarin Sebagai Bekal Terobos Pasar Dunia

    Oleh: Metha Diwangga

    Lajunya pertumbuhan perekonomian Cina sejak tahun 1990 hingga sekarang telah menjadikan Cina sebagai kekuatan perekonomian baru dunia. Geliat perekonomian Amerika Serikat dan negara-negara Eropa bahkan kini sudah kalah laju dibanding negara tirai bambu tersebut. Pertumbuhan ekonomi Cina rata-rata di atas 9 persen per tahun. Populasi warga keturunan Cina di seluruh dunia yang mencapai 1,9 miliar orang, telah menyulap Bahasa Mandarin menjadi bahasa bisnis yang strategis di dunia internasional.

    Alhasil, Bahasa Mandarin kini menjadi bahasa Internasional kedua setelah Bahasa Inggris. Bahasa Mandarin digunakan oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia dan penguasaan terhadap Bahasa Mandarin sering diidentikan dengan makin cerahnya prospek karir seseorang terutama bagi mereka yang hendak terjun dalam dunia bisnis.

    Berdasarkan data dari Forum Internasional Bahasa Mandarin di Shanghai disebutkan bahwa kini ada lebih dari 2.027 universitas dari 85 negara di seluruh dunia yang menawarkan kursus bahasa Mandarin. Peningkatan penawaran ini terutama dipicu oleh keberhasilan Cina dalam mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade dan keberhasilan dalam masuknya Cina menjadi anggota WTO.

    Data statistik dari forum yang sama juga menyebutkan bahwa ada sekitar 25 juta orang yang berminat mempelajari Bahasa Mandarin dan 60.000 orang di antaranya datang ke Cina khusus untuk mempelajari Bahasa Mandarin secara lebih baik.  keterampilan berbahasa asing seringkali dijadikan tolok ukur untuk melihat potensi diri seseorang. Ternyata, tidak hanya bahasa Inggris yang banyak diminati dan tersedia kelembagaannya, bahasa Mandarin pun sudah dijadikan suatu kebutuhan untuk perbekalan menerobos pasar dunia.

    Ketua Asosiasi Pendidik dan Pengembangan Bahasa Mandarin (APPBIMI) DIY Nicodemus Sanny mengemukakan, sekolah Bahasa Mandarin semakin merebak seiring dengan banyaknya perusahaan asing. "Apalagi, sekarang perusahaan mandarin sudah membuka Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia," ujar Sanny seperti dilansir dari laman Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

    Melihat realita di atas maka tidak salah bila SMA Walisongo Pecangaan Jepara yang notabene pendidikan sekolah menengah atas mulai dari tahun 2000 sudah mengembangkan keterampilan berbahasa mandarin dengan tujuan untuk membekali kemampuan peserta didik agar mampu bersaing dalam dunia kerja maupun dikembangkan dalam dunia pendidikan.

    Keseriusan SMA Walisongo Pecangaan Jepara dalam mengembangkan kemampuan berbahasa mandarin ini di wujudkan dengan mengembangkan kurikulum pendidikan yang kompeten dan mampu menampung segala hal yg memang diperlukan oleh peserta didik. Kerjasama dengan IDB juga pernah dilakukan dengan mendatangkan volunteer (relawan) yang berasal dari China Mr. Chang untuk mengajar bahasa mandarin di SMA Walisongo Pecangaan.

    Keberhasilan dalam mengembangkan pendidikan berbasis bahasa mandarin yang di wujudkan dengan adanya program kelas bahasa juga telah mampu mengantar salah satu pendidik di SMA Walisongo Pecangaan Jepara untuk mengikuti program pendidikan di China selama 6 bulan.

    Melihat pesatnya dunia usaha serta bergesernya peta kekuatan perekonomian yang bergeser ke negara China, tidaklah salah bila SMA Walisongo membekali peserta didik dengan kemampuan berbahasa mandarin sebagai salah satu skill untuk bersaing di pasar dunia. Dengan mutu pendidikan yang unggul dan pendidik yang berkompetensi serta kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik maka bukan tidak mungkin beberapa tahun yang akan datang SMA Walisongo akan jadi satu satunya sekolah yang mampu menembus pasar dunia dengan berbekal bahasa mandarin yang jadi salah satu program unggulan untuk menembus dunia.

    Ganti Kurikulum Ternyata Sama Saja

    Oleh : Abdul Hamid Muammar, S.Pd*

    Para murid kita masih sangat tergantung pada guru. Tanpa perubahan perilaku guru dalam mengajar, perubahan kurikulum hanya perubahan nama saja. Pergantian kurikulum adalah hal yang wajar terjadi karena kurikulum harus mengikuti perkembangan zaman.
     
    Kurikulum pendidikan Indonesia sudah beberapa kali mengalami pergantian. Mulai dari kurikulum ’75, ’84, ’94, ’94 Suplemen, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kurikulum 2006 kemudian kurikulum KTSP berbasis kompetensi dan di sempurnakan lagi dengan berbasis karakter, yang terakhir akan di berlakukannya kurikulum 2013. Belum ada ketentuan baku harus berapa tahun kurikulum diganti. Namun, pada prinsipnya pergantian kurikulum dilakukan untuk mengubah arah pendidikan agar sesuai dengan tuntutan zaman.

    Efek perubahan kurikulum tentulah perubahan guru dalam mengajar. Perilaku guru pada kurikulum ’75 berbeda dengan perilaku guru pada kurikulum ’84, berbeda juga dengan kurikulum ’94 dan berbeda pula dengan ’06. Faktanya kurikulum bergonta-ganti perilaku guru tidak mengalami perbedaan. Seperti kata syair lagu Iwan Fals “Zaman berubah perilaku tidak berubah.” Dalam bahasa pendidikan, kurikulum berubah perilaku guru tak berubah.

    Diklat dan pelatihan yang dilaksanakan untuk sosialisasi kurikulum baru tidak pernah menjangkau perubahan perilaku guru secara menyeluruh. Diklat dan pelatihan hanya berujung pada Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPL) dan sertifikat yang menandakan bahwa guru telah mendapat sosialisasi perubahan kurikulum tanpa ditandai dengan pemahaman apalagi perubahan perilaku.

    Perubahan kurikulum bukannya mengubah wajah pendidikan menjadi lebih baik melainkan menjadi penyebab anomi guru-guru. Perubahan kurikulum sering ditandai dengan penerapan model mengajar, misalnya Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah model belajar berciri khas yang pernah diperkenalkan.

    Pada praktiknya bayak guru kehilangan fungsi tugasnya. Guru mengalami kesulitan untuk mengaktifkan murid dalam belajar. Murid tidak biasa belajar aktif. Mereka hanya bisa belajar jika ada guru. Itupun aktifitas belajarnya hanya melihat dan mendengarkan guru berceramah. Murid tidak pernah bertanya ataupun menjawab pertanyaan. Murid hanya bisa diam dan tersenyum. Budaya diam dan malu berbicara di muka umum adalah faktor mengapa mereka hanya melihat dan mendengar dalam belajar. Guru akhirnya mengalami kebingungan untuk mengaktifkan muridnya dalam belajar. Sementara tuntutan kurikulum, siswa harus aktif dalam belajar.

    Dalam kondisi bingung, datanglah penerbit menawarkan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dengan alasan bantu siswa untuk belajar aktif, LKS adalah alat bantu yang tepat untuk digunakan. Cukup dengan meneragkan sedikit, seterusnya murid akan belajar sendiri dengan bantuan LKS. Seperti diselamatkan dari kebingungan, guru cepat mengerti apa yang diajukan penerbit.

    Untuk lebih menstimulus, guru menggunakan LKS, guru diberi rabat dari hasil penjualan LKS oleh penerbit. Kepada murid mereka bicara, “Demi kelancaran kita dalam belajar dan dapat membantu murid untuk belajar aktif, LKS ini wajib dimiliki oleh semua siswa.” Murid-murid tentu saja percaya apa yang dikatakan gurunya. Murid-murid menyerbu LKS dan guru senang karena rabat yang diterima memuaskan. Sejak saat itu, dengan alasan CSBA, guru menjadi ketergantungan pada LKS.

    Dengan menggunakan LKS guru berhasil menerapkan metode belajar CBSA, bahkan kebablasan. dengan penggunaan LKS dan metode CBSA tugas guru menjadi lebih ringan. Guru hanya bertugas membagikan LKS dan murid aktif mengerjakan LKS dalam setiap pertemuan. Selesai belajar, LKS dikumpulkan. Minggu berikutnya guru memanggil ketua kelas dan menyuruh untuk melanjutkan pekerjaan LKS. Dalam satu semester LKS selesai dikerjakan oleh murid dan tak ada satu pokok bahasan pun yang diperiksa guru.

    Ketika nilai akhir untuk pengisian rapor diminta, guru bersangkutan melirik guru sebelah untuk memastikan murid mana yang layak mendapat nilai baik dan murid yang layak mendapat nilai baik dan murid yang layak mendapat nilai rendah. Bahkan, ada guru yang berani mengambil nilai dengan menyerahkan kepada wali kelas atau copas nilai dari mata pelajaran lain dengan alasan hasilnya tidak akan jauh berbeda. Saking tidak pernah masuk kelas, ada guru yang tidak tahu mana anak yang sudah keluar atau pindah.

    Setelah lama masa CBSA berlangsung, kini kurikulum berganti lagi dengan embel-embel berbasis kompetensi (KBK). Model belajar dalam kurikulum ini namanya lebih keren lagi. Dalam KBK, murid harus diajarkan melalui empat pilar pendidikan.
    1. Learning how to learn.
    2. Learning to do.
    3. Learning to life together.
    4. Learning to be.

    Dalam pikiran guru, “Goodbye CBSA, kurikulum masa lalu.” Padahal kalau dipahami, CBSA adalah bagian dari learning to do. Namun di kalangan guru kalau ada yang membicarakan CBSA akan dianggap jadul dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah begitu gencar melakukan sosialisasi kurikulum baru. Diklat dan seminar terus dilakukan untuk memberi pemahaman guru tentang KBK.

    Setelah sedikit mengerti akhirnya mereka sadar dan melecehkan KBK, “Ini sama aja dengan CBSA.” Lalu semua guru mulai mencela KBK dengan alasan prinsipnya sama dengan CBSA. Praktiknya mereka kembali pada LKS. Murid mengerjakan LKS dari pertemuan pertama sampai akhir. Fiuh!

    Belum lama KBK diterapkan, kurikulum berubah lagi dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Alasan pemerintah menggunakan kurikulum baru adalah untuk menyesuaikan dengan zaman yang sudah memasuki era otonomi daerah. KTSP memang sesuai dengan semangat otonomi daerah yang ingin menggali potensi daerah. Right, KTSP adalah model kurikulum yang cocok pada era ini. Tapi model belajar tidak berubah, tetap seperti CBSA dan KBK. Hanya saja kali ini baik guru dan murid sama-sama aktif.

    Seperti tanpa perubahan, pada kurikulum ini pun penggunaan LKS masih bertahan. Ketergantungan dengan rabat? Who knows. Daripada buku, guru lebih senang menggunakan LKS. Kalau menggunakan buku, guru masih direpotkan dengan membaca dan memahami. Namun dengan LKS, guru bisa meninggalkan siswa kapan saja dengan catatan siswa mengerjakan LKS. Dari jarak jauh sekalipun, guru tetap bisa mengontrol, cukup dengan mengirimkan SMS pada ketua kelas, “Saya tidak bisa hadir, kerjakan LKS bab berikutnya.” Ketua kelas membalas, “LKS nya dikumpulkan pak?” Guru mereply, “Kumpulkan diatas meja saya.” Selesai.

    Tidak tau apakah murid mengerjakan LKS atau tidak, tau-tau minggu depan LKS sudah menumpuk lagi di meja kelas dan akan dibagikan kepada siswa untuk dikerjakan lagi. Begitu seterusnya.

    Sebenarnya perubahan kurikulum belum bisa mengubah perilaku belajar, baik murid maupun guru. Dampak perubahan kurikulum yang sangat penting adalah perubahan cara mengajar guru dan belajar murid. Para murid masih masih sangat bergantung pada guru. Tanpa perubahan perilaku guru dalam mengajar, pergantian kurikulum hanya perubahan nama.

    Dalam hal ini, pemerintah hendaknya memberikan kontrol yang berkesinambungan. Fungsi pengawasan sangatlah penting. Kegagalan sosialisasi dan penerapan kurikulum sangat berkaitan dengan fungsi pengawasan. Tanpa itu, guru akan kembali ke habitatnya.

    *Staf pengajar di SMA Walisongo Pecangaan

    Facebook Addiction

    Oleh: Zamroni, S.Pd.I.

    “Pada suatu hari ada orangtua yang mengeluhkan perilaku anaknya yang masih remaja mengalami perubahan perilaku secara  drastis, tidak mau sekolah, lebih senang berdiam diri dikamar atau lebih asik dengan  bermain internet di komputer, laptop ataupun handphone, motivasi belajarnya menurun. Sebagian besar waktunya sehari-hari ia gunakan untuk memandangi layar komputer, Laptop atupun  handphone. Orangtua tersebut merasa kebingungan ada apakah gerangan anaknya?”

    Penggalan cerita diatas merupakan gambaran kehawatiran para orang tua modern yang melihat perilaku anaknya berubah secara mendadak sejak berkenalan dengan dunia internet, khususnya media sosial facebook. Lantas apa hubungannya facebook dengan perilaku yang dialami oleh remaja tersebut?

    Awal tahun 2004, Mark Zuckerburg mendirikan Facebook. Sebuah situs jejaring  sosial  di  internet  yang  memiliki users  sebanyak  1 milyar lebih di  seluruh  dunia.  Data  yang  dilansir media online antaranews.com menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketigadi dunia dalam penggunaan situs jejaring Facebook. Bahkan menurut data statista.com menyatakan, pengguna aktif (active users) facebook di Indonesia per Juni 2012 tembus angka 955 juta akun itu artinya sedikit lagi akan menyamai jumlah penduduk india yang mencapai 1 milyar jiwa.

    Pengguna  facebook  di  Indonesia  yang  termasuk  terbesar  di  Asia sebagaimana data di atas, hal tersebut perlu diketahui untuk mendeteksi  potensi kecanduan yang berkaitan dengan penggunaan internet. Gangguan tersebut dinamakan Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet, yang meliputi segala macam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi online, game online, chatting dll.

    Menurut ilmuwan yang bernama Philips  menyebutkan  bahwa kecanduan  terhadap  internet sama halnya dengan judi patologis sesuai dengan yang tercantum didalam Diagnostic and Statistical Manual of mental Disorder IV (DSM IV). Kecanduan tersebut merupakan gangguan kontrol impuls yang tidak dipengaruhi oleh obat-obatan. Berdasarkan hal tersebut,perilaku  kecanduan  terindikasi  merupakan  perilaku  yang  berlebihan  karenaterdapat gangguan kontrol, yang mana dapat menimbulkan dampak buruk bagi pelakunya. Kecanduan itu sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah merupakan kejangkitan  untuk gemaran (hingga melupakan hal-hal yang lain).

    Dampak negatif kecanduan terhadap internet (Baca : facebook) telah  dibandingkan  dengan  kecanduan  obat-obatan,  bahwa  terdapat  kesamaan dalam hal permasalahan akibat kecanduan facebook, hal yang seringkali kita lihat di sekeliling kita ada menurunnya performa kerja karena biasanya para pecandu akan mempergunakan sebagian besar waktunya untuk membuka akun Facebook dari pada bekarja sesuai dengan tanggung jawabnya. Masalah-masalah lain yang ditimbulkan akibat dari kecanduan ini adalah masalah yang berkaitan dengan relationship. Dalam survei yang telah dilakukan oleh ilmuwan yang bernama Young dilaporkan oleh 53% pecandu Facebook  yang telah disurvei mengalami masalah hubungan pernikahan, hubungan orangtua anak, serta hubungan pertemanan. Permasalahan lain yang banyak dialami para remaja akibat dari kecanduan Facebook  adalah permasalahan akademis, para siswa yang menggunakan internet secara berlebihan berkemungkinan besar lebih menyukai aktifitas online daripada belajar atau mengerjakan tugas dan seringkali mereka melewatkan pelajaran di kelas atau ujian, dan biasanya para siswa itu biasanya menyadari ketika mereka gagal lulus dalam ujian.

    Facebook  membuat manusia  modern  bisa  mengekspresikan  segala  sesuatu  tentang  dirinya  baik melalui foto, video, aplikasi, catatan, status, ataupun komentar. Foto-foto, status,dan komentar yang diterbitkan oleh pengguna, tidak jarang terkesan menampilkan diri secara berlebihan. Facebook memberi kesempatan kepada tiap orang agar menjadi dirinya sendiri dan bebas berbicara dengan semua orang. Facebook juga dapat digunakan untuk mewujudkan sosok impian. Pengguna yang bermimpi jadi mafia, dapat memainkan game berjenis gangster. Pengguna yang ingin menjadi petani dapat memainkan game bercocok tanam. Pengguna yang gemar lomba balap dapat memainkan game balap. Facebook dapat menjadi jalan bagi seseoran guntuk menjadi tokoh impiannya.

    Penggunaan Facebook bukan hanya kalangan anak muda tetapi telah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat dan usia. Mulai anak  sekolah,  mahasiswa,  karyawan,  hingga  ibu-ibu  rumah  tangga. Aktifitas mengakses Facebook telah dimulai sejak bangun tidur, ketika sampai di kantor, sambil bekerja atau sekolah, di kantin, pada saat jam pelajaran berlangsung, ketika akan mengajar, hingga di rumah usai pulang dari kantor atau sekolah dll.

    Perilaku kecanduan seringkali digunakan sebagai pelumas untuk mengatasi kebutuhan yang hilang yang mana timbul dari kejadian atau situasi yang tidak menyenangkan dalam kehidupan seseorang. Hal tersebut berarti bahwa perilaku kecanduan membuat seseorang melupakan masalah. Perilaku kecanduan merupakan cara yang berguna untuk mengatasi stress dalam situasi yang keras, bagaimanapun juga perilaku kecanduan digunakan untuk melarikan diri dari situasi yang tidak menyenangkan dalam jangka panjang yang akhirnya hanya membuat masalah menjadi lebih buruk. Pecandu cenderung mengingat efek mengobati diri dari kecanduan mereka dan melupakan bagaimana permasalahan tumbuh lebih buruk karena mereka terus terlibat dalam perilaku penolakan. Seseorang   mudah   menjadi   pecandu   ketika   merasa  kurang  puas   dalam kehidupannya, tidak adanya keintiman atau koneksi yang kuat terhadap orang lain, kurangnya kepercayaan diri, atau kehilangan harapan.

    Hal-hal yang mendorong atau mempengaruhi seseorang mengakses Facebook adalah sebagai berikut:
    1. Komunikasi dengan teman-teman.
    Pengguna mengakses Facebook untuk berkomunikasi dengan teman yang seringnya bukan dari sekolah atau komunitas yang sama.

    2. Memperlihatkan identitas diri.
    Pengguna menunjukkan   siapa   dirinya   yang   sebenarnya,   dengan menyebutkan  informasi  demografi  yang  contohnya  kota  asal  atau tanggal ulang tahun, tentang kesukaan dan hal lain terkait identitas diri.

    3. Ada hal menarik yang diperoleh dari Facebook.
    Beberapa hal menarik yang diperoleh yaitu bahwa pengguna menyambung kembali   hubungan   dengan   teman   dan   memperluas   jaringan, mempelajari  informasi  dari  pengguna  lain,  memiliki  kemungkinan
    kecanduan Facebook dan sebagai ajang menunjukkan diri.

    Sedangkan kriteria seseorang mengalami  kecanduan  facebook dapat ditunjukkan melalui aktifitas atau perilaku sebagai berikut :
    1. Pikiran selalu tertuju terhadap Facebook
    2. Waktu akses Facebook semakin lama semakin bertambah (sering ataupun bertambah lama)
    3. Kesulitan  dalam  mengurangi,  mengontrol  atau  menghentikan  akses Facebook
    4. Ada perasaantidak nyaman jika terpaksa berhenti dari mengakses Facebook
    5. Terkoneksi ke Facebook lebih lama dari yang semula direncanakan
    6. Bermasalah dengan hubungan penting, pekerjaan, pendidikan atau peluang karir
    7. Menyembunyikan keterlibatan Facebook dari keluarga, terapis maupun yang lain
    8. Facebook digunakan sebagai cara untuk lari dari masalah yang dihadapi (misal: tidak berdaya, perasaan bersalah, kecemasan, depresi).

    Karena lingkungan kita dekat dengan teknologi, sudah barang tentu koneksi internet merupakan “makanan pokok “ kita sehari-hari, bahkan kita mungkin sebagai salah satu user facebook. Sudah selayaknya kita harus mampu mengatur waktu serta memilih aktifitas  yang bermanfaat bagi kehidupan kita dimasa sekarang dan masa yang akan datang agar waktu yang kita miliki mempunyai nilai barokah dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan ini.

    Nah, apakah kalian mengalami kecanduan facebook? Tidak ada salahnya  kalian mengisi skala sederhana yang dapat memisahkan anda menjadi pengguna yang sehat atau seorang pecandu facebook.(dikutip dari laman Dailymail.co.uk.)

    Jawaban memiliki kriteria penilaian sebagai berikut :
    1= Sangat jarang
    2= Jarang
    3= Kadang-kadang
    4= Sering
    5= Sangat sering

    SKALA :
    Pilih jawaban yang paling mewakili kebiasaan dan perasaan Anda :
    1. Anda menghabiskan banyak waktu memikirkan Facebook atau berencana menggunakan Facebook?
    2. Anda mengalami dorongan untuk terus-menerus menggunakan Facebook ?
    3. Anda menggunakan Facebook agar bisa melupakan masalah pribadi?
    4. Anda berusaha mengurangi penggunaan Facebook, tapi gagal?
    5. Anda merasa gelisah dan bermasalah apabila penggunaan Facebook dilarang?
    6. Anda sangat sering menggunakan Facebook, sehingga berpengaruh buruk pada pekerjaan atau sekolah?

    INTERPRETASI:
    Apabila skor Anda 4 (sering) atau 5 (sangat sering) pada setidaknya 4 dari 6 poin ini, maka Anda pecandu Facebook.

    Daftar Bacaan :
    Phillips, Martin. 2007, Internet Dependency (Addiction) – Some Initial Research, Addiction.pdf.
    Yellowlees, P.M. & Marks, S. 2007, 'Problematic Internet use or Internet addiction?', computer ini Human behavior, vol 23

     
    Copyright © 2013. Gema Smawas - All Rights Reserved
    Didukung oleh Blogger